Minggu, 11 November 2012

NGUSIR TIKUS



Bismillahir Rohmanir Rohiim...

Kejadian lucu hari ini...
Bertandang ke rumah teman (Mba’ Bayu sebutan Fahni untuknya, salah satu teman kerja di Puskesmas Tanjung Aru yang suaminya juga termasuk teman kerja, K’Herdi alias Bapak Zahra, karena anak meraka bernama Zahra) setelah mengantarkan makanan pasien. Ada kejadian lucu (hahaha). Sewaktu duduk-duduk di dekat dapur teman sambil membaca sebuah buku yang tidak selesai-selesai membacanya (padahal hitungannya tipis aja, hufft males dipiara, ckckckck), teman sedang mengulek bumbu untuk membuat “sambal tumpang”. Teman cerita kalau tikus yang masuk ke dapurnya dari pembuangan kamar mandi masih saja belum keluar-keluar. Hahh?.. masih ada tikusnya mba’?.. Yaa, mau bagaimana lagi, saya kan geli sama tikus (kata teman Fahni). Suaminya pun sama, geli dengan tikus, makanya tikusnya tidak diusir-usir.

Ya udah, karena gemes plus geregetan, akhirnya Fahni berdiri dari dudukan dan langsung menuju dapurnya untuk mengusir si tikus. Fahni ambillah barang-barang teman satu persatu yang berada di bawah meja (tikusnya sembunyi di dekat-dekat kardus yang ada di bawah meja makan katanya). Teman langsung lari sambil mengangkat ulekan plus tatakannya keluar dari dapur dan langsung naik ke atas kursi yang berada di ruang tengah rumahnya (hihihi, pemandangan yang lucu). Lanjut cerita angkat-angkat barangnya, setelah barang-barang yang berada di sekitar kardus terakhir (yang Fahni perkirakan sudah dijadikan sarang karena sudah bolong pinggirannya) Fahni angkat, Fahni seretlah kardus itu agak keluar dari bawah kolong meja, sreeeett...kaget!!! Waaah tikusnya lari keluar kardus dua ekor (induk dan anaknya, ckckckck... tikusnya sudah beranak sekalinya), lucunya ada seekor lagi anaknya yang sempat mandangin Fahni sebelum dia lari juga (iiiiii, gemes dech ma anak tikus itu).

Tikus itu ternyata lari ke sekitar box pendingin makanan (kenapa ada box pendingin makanan?.. karena sayang kalau kami membeli kulkas untuk di bawah ke Tanjung Aru yang listriknya hanya berlaku 12 jam, jadi kami hanya membeli box yang diisi dengan es batu sebagai alat pendingin. Box putih ini juga biasa digunakan sebagai penyimpanan ikan bagi para pedagang ikan, dengan ukuran yang lebih besar biasanya) yang ada di depan meja makan. Mulai lagi mindah-mindahkan barang yang ada di sekitar box itu. Sewaktu mau menggeser box itu, si induk lari keluar dapur menuju ruang tamu teman, kami pikir dia sudah mau langsung keluar, sekalinya dia masih bersembunyi di dekat printer yang berada di ruang tamu. Fahni pun mendatanginya ke sana, eeee... lari lagi ke dapur dia. Kembali lagi  ke dapur Fahni mengejarnya, “ada di belakang ember air tante (teman memanggil Fahni tante, untuk membiasakan anaknya yang masih kecil mendengarnya dan ikut memanggil Fahni tante). Ember air itu berada di samping box makanan tadi. Jadilah Fahni mendekat ke ember itu. Lah, tikusnya lari lagi keluar ke ruang tamu, Fahni ke ruang tamu lagi. Sampai tiga kali kejadian yang sama, dapur-ruang tamu, dan yang ketiga kalinya baru si induk lari keluar rumah melalui pintu depan.
Mulailah berburu anak tikus, waktu si induk tikus tadi keluar dari belakang box makanan, Fahni sempat melihat ke sana (ke belakang box), ada anak si tikus di sana, jadilah Fahni merapatkan box itu ke dinding sebagai upaya untuk menjepitnya agar tidak lari sementara Fahni kejar si induk tadi. Setelah induknya keluar, kembali lagi Fahni ke depan box itu, Fahni dorong-doronglah box itu pakai kaki, terdengar suara anak tikus (sambil melakukan itu, Fahni berkata “maaf yach tikus, masalahnya kalau kalian tidak dimusnahkan dari dapur ini, kami  bisa terkena penyakit”. Tikus bisa mengakibatkan kita terkena penyakit Leptospirosis, yang lebih dikenal dengan istilah penyakit pes). Karena sudah kepanasan plus keringatan setelah kejar si induk, Fahni memutuskan nanti setelah makan siang baru lanjutkan untuk mengeluarkan si anak tikus dari jepitan box itu. “Mba’, sms Bapak Zahra donk, laper nich makanannya belum dibawain sampai sekarang”(tadi sebelum mengejar tikus, kami minta tolong pada Bapak Zahra untuk membelikan nasi goreng di salah atu warung makan yang ada di Tanjung Aru), “iya...iya, tunggu sebentar yach Bu”. Jadilah Mba’ Bayu menelfon Bapak Zahra, bukannya sms seperti yang Fahni minta. “Iya...iya ini sudah di jalan ini” (kata Bapak Zahra di telfon sewaktu Mba’ Bayu telfon). Tidak lama kemudian, Bapak Zahra pun datang dengan membawa pesanan kami, langsung saja Fahni duduk di ruang tengah (setelah mencuci tangan terlebih dahulu. cuci tangan dulu yach sebelum makan, jangan lupa pakai sabun)  karena Mba’ Bayu sudah menyiapkan piring dan sendok untuk kami berdua pakai. Fahni raih kantongan nasi yang ada di depan Fahni, Fahni keluarkan dari kantongan dua bungkusan nasi ke piring kami masing-masing. Jadilah kami  makan siang tanpa Bapak Zahra, karena katanya dia masih kenyang.
Alhamdulillah, hilang lagi  satu kekhawatiran di dunia ini... Perut sudah selesai diisi. (Alhamdulillah salah satu tanggung jawab pada tubuh sudah tertunaikan). Nasi goreng di warung itu memang terkenal dengan porsinya yang banyak dengan harga yang terjangkau sekali (alias murah banget), tapi porsi murah meriah itu yach memang standar, nasinya yang banyak daripada lauknya (hihihi).
Selesai memanjakan diri dengan makanan, kembali Fahni menengok si anak tikus, Cuma mengecek apa si anak masih adda di belakang box. Yup, ternyata masih ada. Fahni tidak langsung mengeksekusinya, melainkan berjalan ke pintu depan untuk merasakan sejuknya angin yang bertiup (serius udaranya terasa sangat panas siang ini). Setelah merasa cukup menghirup udara segar dari luar dan merasakan sejuknya buaian angin, kaki pun kembali melangkah ke dapur, “Mba’ ayo, liatin lagi tikusnya”, “oke”. Kembali Mba’ Bayu naik ke atas kursi (hihihi) untuk melihat akan lari ke mana anak tikus itu. Fahni pun menarik box ke arah depan, terlihatlah dua anak tikus dibelakangnya, satu anak tikus ternyata telah mati (penyot ketindihan box, agak sedih melihatnya, tapi mau bagaimana lagi?.. hikz), satunya lagi juga sudah agak kewalahan tapi masih sanggup melarikan diri lagi ke sudut bawah meja makan. Fahni pun menghampirinya ke sana, menarik jeregen minyak makan yang masih ada di sudut bawah meja, dia pun berusaha lari ke sisi kiri meja (tadi di sudut kanan bawah meja), tapi hap!!! Fahni pun berhasil menangkapnya dengan tangan yang sudah Fahni lapisi dengan kantongan kecil. Setelah dapat, Fahni langsung melemparkannya jauh-jauh ke belakang rumah Mba’ Bayu (maaf yach tikus...batinku). tinggal satu lagi anaknya yang sudah jadi bangkai, langsung saja Fahni ambil dan melemparkannya juga ke belakang melalui pintu belakang yang ada di dapur.
Alhamdulillah... akhirnya selesai juga mengeksekusi tikus-tikus yang ada di rumah Mba’ Bayu. Kata Mba’ Bayu, “andai nda ada tante, nda tau sudah beranak pinak kaya’ mana nanti?”, Fahni  yaaa senyum-senyum aja. Jadi ingat waktu di kost-an yang dulu juga sering ngejar-ngejar tikus (^_^). Alhamdulillah di kost yang sekarang tidak ada tikusnya, sempat ada dulunya (awal-awal pindah ke situ), tapi sudah diblokade jalannya untuk naik bersarang di atas palpon kost-an itu. Yup!!! Diblokade sama suamiku tersayang waktu bulan Romadhon kemarin. Alhamdulillahi Robbal’aalamiin...

Sudah dulu yach cerita untuk hari ini, insyaAlloh lain kali kita lanjutkan dengan cerita yang tidak kalah serunya...aamiin

^_^
*Fahni*
11 November 2012
19:42 pm

2 komentar:

  1. haha kakak..lucu skali.. jago tangkap tikus ternyata kk fuzah yg satu ini.. siap dipegang pake tangan..wahhh..jagona.. kalo fuzah, huiiii, indikasi pingsan ditempat!!..ckck.. nnti kalo ada tikus dikostanx fuzah, fuzah panggil kk eksekusi nah..ckck.. kalo kecoa gimana? kk berani? huish itu lagi satu makhluk yg fuzah alergi..apalagi kecoa yg bisa terbang.. widih mw copot rasax jantung ini..haha

    BalasHapus
  2. bisa aja sayang, panggil aja kk klo' mm ada tikusx. ^_^
    tapi masa' sich Fuzah bisa pingsan gegara tikus?..
    klo' sama kecoa kk nda takut sich, cuman jijik aja...

    BalasHapus