Bismillahir
Rohmanir Rohiim...
Kejadian lucu hari ini...
Bertandang ke
rumah teman (Mba’ Bayu sebutan Fahni untuknya, salah satu teman kerja di
Puskesmas Tanjung Aru yang suaminya juga termasuk teman kerja, K’Herdi alias
Bapak Zahra, karena anak meraka bernama Zahra) setelah mengantarkan makanan
pasien. Ada kejadian lucu (hahaha). Sewaktu duduk-duduk di dekat dapur teman
sambil membaca sebuah buku yang tidak selesai-selesai membacanya (padahal
hitungannya tipis aja, hufft males dipiara, ckckckck), teman sedang
mengulek bumbu untuk membuat “sambal
tumpang”. Teman cerita kalau tikus yang masuk ke dapurnya dari pembuangan
kamar mandi masih saja belum keluar-keluar. Hahh?..
masih ada tikusnya mba’?.. Yaa, mau bagaimana lagi, saya kan geli sama tikus
(kata teman Fahni). Suaminya pun sama, geli dengan tikus, makanya tikusnya
tidak diusir-usir.
Ya udah,
karena gemes plus geregetan, akhirnya Fahni berdiri dari dudukan dan langsung
menuju dapurnya untuk mengusir si tikus. Fahni ambillah barang-barang teman
satu persatu yang berada di bawah meja (tikusnya sembunyi di dekat-dekat kardus
yang ada di bawah meja makan katanya). Teman langsung lari sambil mengangkat
ulekan plus tatakannya keluar dari dapur dan langsung naik ke atas kursi yang berada
di ruang tengah rumahnya (hihihi, pemandangan yang lucu). Lanjut cerita
angkat-angkat barangnya, setelah barang-barang yang berada di sekitar kardus
terakhir (yang Fahni perkirakan sudah dijadikan sarang karena sudah bolong
pinggirannya) Fahni angkat, Fahni seretlah kardus itu agak keluar dari bawah
kolong meja, sreeeett...kaget!!! Waaah tikusnya lari keluar kardus dua ekor (induk
dan anaknya, ckckckck... tikusnya sudah beranak sekalinya), lucunya ada seekor
lagi anaknya yang sempat mandangin Fahni sebelum dia lari juga (iiiiii, gemes
dech ma anak tikus itu).
Tikus itu
ternyata lari ke sekitar box pendingin makanan (kenapa ada box pendingin
makanan?.. karena sayang kalau kami membeli kulkas untuk di bawah ke Tanjung
Aru yang listriknya hanya berlaku 12 jam, jadi kami hanya membeli box yang
diisi dengan es batu sebagai alat pendingin. Box putih ini juga biasa digunakan
sebagai penyimpanan ikan bagi para pedagang ikan, dengan ukuran yang lebih besar
biasanya) yang ada di depan meja makan. Mulai lagi mindah-mindahkan barang yang
ada di sekitar box itu. Sewaktu mau menggeser box itu, si induk lari keluar
dapur menuju ruang tamu teman, kami pikir dia sudah mau langsung keluar,
sekalinya dia masih bersembunyi di dekat printer yang berada di ruang tamu. Fahni
pun mendatanginya ke sana, eeee... lari lagi ke dapur dia. Kembali lagi ke dapur Fahni mengejarnya, “ada di belakang ember air tante” (teman memanggil Fahni tante, untuk
membiasakan anaknya yang masih kecil mendengarnya dan ikut memanggil Fahni
tante). Ember air itu berada di samping box makanan tadi. Jadilah Fahni
mendekat ke ember itu. Lah, tikusnya lari lagi keluar ke ruang tamu, Fahni ke
ruang tamu lagi. Sampai tiga kali kejadian yang sama, dapur-ruang tamu, dan
yang ketiga kalinya baru si induk lari keluar rumah melalui pintu depan.
Mulailah
berburu anak tikus, waktu si induk tikus tadi keluar dari belakang box makanan,
Fahni sempat melihat ke sana (ke belakang box), ada anak si tikus di sana,
jadilah Fahni merapatkan box itu ke dinding sebagai upaya untuk menjepitnya
agar tidak lari sementara Fahni kejar si induk tadi. Setelah induknya keluar,
kembali lagi Fahni ke depan box itu, Fahni dorong-doronglah box itu pakai kaki,
terdengar suara anak tikus (sambil melakukan itu, Fahni berkata “maaf yach tikus, masalahnya kalau kalian
tidak dimusnahkan dari dapur ini, kami
bisa terkena penyakit”. Tikus bisa mengakibatkan kita terkena
penyakit Leptospirosis, yang lebih
dikenal dengan istilah penyakit pes).
Karena sudah kepanasan plus keringatan setelah kejar si induk, Fahni memutuskan
nanti setelah makan siang baru lanjutkan untuk mengeluarkan si anak tikus dari
jepitan box itu. “Mba’, sms Bapak Zahra
donk, laper nich makanannya belum dibawain sampai sekarang”(tadi sebelum
mengejar tikus, kami minta tolong pada Bapak Zahra untuk membelikan nasi goreng
di salah atu warung makan yang ada di Tanjung Aru), “iya...iya, tunggu sebentar yach Bu’”. Jadilah Mba’ Bayu menelfon
Bapak Zahra, bukannya sms seperti yang Fahni minta. “Iya...iya ini sudah di jalan ini” (kata Bapak Zahra di telfon
sewaktu Mba’ Bayu telfon). Tidak lama kemudian, Bapak Zahra pun datang dengan
membawa pesanan kami, langsung saja Fahni duduk di ruang tengah (setelah
mencuci tangan terlebih dahulu. cuci tangan dulu yach sebelum makan, jangan lupa pakai sabun) karena
Mba’ Bayu sudah menyiapkan piring dan sendok untuk kami berdua pakai. Fahni raih
kantongan nasi yang ada di depan Fahni, Fahni keluarkan dari kantongan dua bungkusan
nasi ke piring kami masing-masing. Jadilah kami
makan siang tanpa Bapak Zahra, karena katanya dia masih kenyang.
Alhamdulillah,
hilang lagi satu kekhawatiran di dunia
ini... Perut sudah selesai diisi. (Alhamdulillah salah satu tanggung jawab pada
tubuh sudah tertunaikan). Nasi goreng di warung itu memang terkenal dengan
porsinya yang banyak dengan harga yang terjangkau sekali (alias murah banget),
tapi porsi murah meriah itu yach memang standar, nasinya yang banyak daripada
lauknya (hihihi).
Selesai memanjakan
diri dengan makanan, kembali Fahni menengok si anak tikus, Cuma mengecek apa si
anak masih adda di belakang box. Yup, ternyata masih ada. Fahni tidak langsung
mengeksekusinya, melainkan berjalan ke pintu depan untuk merasakan sejuknya
angin yang bertiup (serius udaranya terasa sangat panas siang ini). Setelah merasa
cukup menghirup udara segar dari luar dan merasakan sejuknya buaian angin, kaki
pun kembali melangkah ke dapur, “Mba’
ayo, liatin lagi tikusnya”, “oke”.
Kembali Mba’ Bayu naik ke atas kursi (hihihi) untuk melihat akan lari ke mana
anak tikus itu. Fahni pun menarik box ke arah depan, terlihatlah dua anak tikus
dibelakangnya, satu anak tikus ternyata telah mati (penyot ketindihan box, agak
sedih melihatnya, tapi mau bagaimana lagi?.. hikz), satunya lagi juga sudah
agak kewalahan tapi masih sanggup melarikan diri lagi ke sudut bawah meja
makan. Fahni pun menghampirinya ke sana, menarik jeregen minyak makan yang
masih ada di sudut bawah meja, dia pun berusaha lari ke sisi kiri meja (tadi di
sudut kanan bawah meja), tapi hap!!! Fahni pun berhasil menangkapnya dengan
tangan yang sudah Fahni lapisi dengan kantongan kecil. Setelah dapat, Fahni
langsung melemparkannya jauh-jauh ke belakang rumah Mba’ Bayu (maaf yach tikus...batinku). tinggal satu
lagi anaknya yang sudah jadi bangkai, langsung saja Fahni ambil dan
melemparkannya juga ke belakang melalui pintu belakang yang ada di dapur.
Alhamdulillah...
akhirnya selesai juga mengeksekusi tikus-tikus yang ada di rumah Mba’ Bayu. Kata
Mba’ Bayu, “andai nda ada tante, nda tau
sudah beranak pinak kaya’ mana nanti?”, Fahni yaaa senyum-senyum aja. Jadi ingat waktu di
kost-an yang dulu juga sering ngejar-ngejar tikus (^_^). Alhamdulillah di kost
yang sekarang tidak ada tikusnya, sempat ada dulunya (awal-awal pindah ke situ),
tapi sudah diblokade jalannya untuk naik bersarang di atas palpon kost-an itu. Yup!!!
Diblokade sama suamiku tersayang waktu bulan Romadhon kemarin. Alhamdulillahi
Robbal’aalamiin...
Sudah dulu yach
cerita untuk hari ini, insyaAlloh lain kali kita lanjutkan dengan cerita yang
tidak kalah serunya...aamiin
^_^
*Fahni*
11 November 2012
19:42 pm
haha kakak..lucu skali.. jago tangkap tikus ternyata kk fuzah yg satu ini.. siap dipegang pake tangan..wahhh..jagona.. kalo fuzah, huiiii, indikasi pingsan ditempat!!..ckck.. nnti kalo ada tikus dikostanx fuzah, fuzah panggil kk eksekusi nah..ckck.. kalo kecoa gimana? kk berani? huish itu lagi satu makhluk yg fuzah alergi..apalagi kecoa yg bisa terbang.. widih mw copot rasax jantung ini..haha
BalasHapusbisa aja sayang, panggil aja kk klo' mm ada tikusx. ^_^
BalasHapustapi masa' sich Fuzah bisa pingsan gegara tikus?..
klo' sama kecoa kk nda takut sich, cuman jijik aja...